Sabtu, 30 April 2011

Poetry (or Song?)

Diposting oleh Ayu Aiueo di Sabtu, April 30, 2011 0 komentar
Saat kawanmu pergi
Saat cintamu t'lah basi
Saat tak ada yang peduli
Jangan berkata "I'm not happy"
Jangan lagi mengurung diri
Mari kita bersuka hati

Masih ada hari lain hey, kawan
Senyum tulus dendangkan lagumu
Nada gitar iringi hari barumu
Santai saja jangan melawan
Lebih baik jika berkawan
Do re mi do ayo semangat

Pilih lagumu, apa pun itu
Pop dangdut jazz sama merdu
Lupakan hari boringmu, oh
Jangan jangan kau menangis lagi
Tak ada yang ingin kau bersedih
Karna kita 'kan terbang menuju pelangi

Simpan handphone, tutup twittermu
Hey, kau tak perlu semua itu
Pakai sayapmu dengan imajinasi
Dan sampailah ke langit ilusi
C'mon my bortha my sista
Lupakan hari boring sambut asa





---





Maaf ya kalau puisinya nggak nyambung dan aneh. Hehehe
Kalau ada yang mau bikinin lagu pake puisi ini silakan :)

Minggu, 24 April 2011

Sahabat

Diposting oleh Ayu Aiueo di Minggu, April 24, 2011 0 komentar
Di saat kau membisu di padang ilalang aku mencoba tuk tertawa.
Tapi kau tetap tak bergeming, terpuruk dalam lamunanmu..

Aku merangkul pundakmu.
Rangkulan persahabatan.
Namun matamu menatap kosong ke arah bunga itu.

aku pun mencoba menatapnya.
Tak kutemukan sesuatu yang menarik.
Sahabat, apa yang kau pikirkan?

Bukankah kita sudah berjanji akan selalu berbagi?
Akan selalu ada saat duka dan duka?

Sekali lagi aku berganti menatap matamu dan bunga itu.
Aku menyadari sesuatu.

Jika kau melihat sekilas bunga itu, kau tak akan tahu.
Tapi, cobalah lihat lebih dekat.

Di antara ilalang-ilalang tinggi
Sekuntum mawar putih tumbuh subur.

Merekah indah..
Seolah tanpa beban..

Tersirat sebuah pertanyaan,
Apakah dia merasa kesepian?

Aku berjalan mendekat untuk memetiknya,
"Jangan!" larangmu.
"Kenapa, sobat? Bukankah dia akan merasa kesepian tanpa mawar lain di sekelilingnya?" Tanyaku tak mengerti.
"Dia tak kesepian. Dia begitu bahagia berada di situ." Jawabmu seraya ikut duduk di dekat bunga.
"Bagaimana dia bahagia jika dia berbeda? Dia lebih indah dibanding ilalang-ilalang," sahutku tak mau kalah.

"Apa arti sahabat? Sahabat tak akan membedakan sahabatnya. Apakah dia lebih cantik, lebih tampan. Pintar, bodoh, kaya, miskin. Tak ada bedanya di mata sahabat. Kau tahu itu, dan kuharap kau dan aku pun seperti itu." Perkataanmu membuatku terdiam.
"Kau benar, sahabat. Kita adalah satu. Tak akan bisa dipisahkan walau bagaimanapun. Mulai sekarang kita harus saling berbagi. Sekalipun kita berada di belahan bumi yang berbeda." janjiku.

Kamipun tertawa. Kami berlari mengejar matahari.
Sejauh apapun itu, akan kami tempuh.
Agar kami selalu bersama sampai kami dipisahkan oleh Yang Maha Kuasa.




-----




Sebenarnya cerita super pendek ini sudah pernah aku post di blog lamaku. Tapi karena menurutku (menurutku lho) cerita ini lumayan bagus, aku post ulang lagi deh.
Oke, last, terima kasih sudah mampir, happy easter!

Sabtu, 09 April 2011

Semua Tentangmu-Satu

Diposting oleh Ayu Aiueo di Sabtu, April 09, 2011 0 komentar

Dengan buru-buru Shilla menalikan tali sepatu kedsnya. Lalu berlari ke halte yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. Beruntung sebuah bus sedang berhenti mencari penumpang. Dia langsung naik dan mendapatkan bangku belakang.

Jam tujuh kurang seperempat! Serunya dalam hati. Artinya dia bisa sampai ke sekolah sekitar sepuluh menit lagi, itu pun kalau tidak macet. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya bus sampai di dekat sekolah baru Shilla.

“Kiri, Pak!” Shilla berseru keras. Kenek segera mengetuk-ketuk pintu bus, meminta sopir menghentikan laju bus. Setelah bus berhenti Shilla turun dan berlari ke gedung bertingkat dua itu.

Ini hari pertamanya masuk di SMA Vero, sekolah elit di kotanya yang berhasil menjadi sekolah Shilla atas beasiswa dari prestasinya di bidang seni, yang hari pertamanya gagal total karena wekernya rusak sehingga dia bangun pukul enam lebih.

Gerbang masih terbuka sedikit, tidak ada satpam yang menjaga. Shilla segera melesat dan mencari-cari di mana kelasnya gerangan. Papan berkayu jati di atas sebuah pintu bertuliskan: X-3. Ini dia! Tanpa basa-basi Shilla membuka pintu dan melengang masuk.

Semua yang ada di kelas menoleh kaget, dan memandang Shilla keheranan. Guru yang sedang berdiri di depan kelas menghampiri Shilla.

“Kamu anggota kelas ini?” tanya guru berpakaian serba merah itu.
“Ng, iya Bu.” Jawab Shilla sedikit takut dengan tatapan tajamnya.
Bu Dian, nama guru itu, melirik sekilas jam tangannya, “Sudah terlambat dua puluh menit. Kesiangan?” Shilla mengangguk takut.

Dengan menghela napas, Bu Dian menyuruh Shilla duduk di bangku terakhir yang masih kosong, di sebelah cowok berkacamata dan berambut model harajuku. Wah beruntung! Tapi kelihatannya cowok ini cool. Kalau nggak cool, ya, jaim, tapi lebih terlihat jutek.

Shilla mengulurkan tangannya, “Hei, aku Shilla. Lo?” tanyanya. Cowok harajuku itu cuma menoleh sekilas, “Cakka.” Jawabnya jutek tanpa mengindahkan uluran tangan Shilla. Shilla cemberut, merasa tidak dihargai. Lalu tersadar, sepertinya pernah bertemu Cakka. Entah kapan dan dimana. Tapi sesaat kemudian dia kembali mendengarkan penjelasan fisika dari Bu Dian...


***


Cewek berambut sepunggung itu berjalan tenang menuju perpustakaan sekolah. Tiba-tiba sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya. Seorang cewek jangkung ternyata, yang kalau tidak salah teman sekelasnya yang tadi pagi datang terlambat.

“Hai, lo sekelas sama gue, kan?” tanya cewek itu dengan senyum ramah.
Ify, namanya, mengangguk kecil, berjalan lagi ke arah perpustakaan. Cewek jangkung itu menjejeri langkahnya dengan terburu-buru, “Boleh kenal?” tanya dia.
Ify tidak menjawab, karena sudah sampai di pintu perpus. Segera dia menuju rak buku sastra, mencari-cari sebuah referensi ilmu berbentuk kumpulan kertas di sana.
“Hoi, nggak budek, kan?” tanya cewek jangkung yang ternyata masih mengikutinya.
“Gue Ify.” Jawab Ify singkat dan pelan.
“Oke, gue Shilla. Lo baca buku kayak gini?” tanya Shilla, memandang buku tebal karya Chairil Anwar.
Ify menoleh, “Kenapa?”
Shilla hanya mengedikkan bahu, “Tau’ deh, gue nggak begitu suka soalnya.”
Ify tersenyum kecil, ‘Udah gue tebak, cewek kayak lo nggak suka buku kayak ginian.’ Pikirnya.
“Gue lebih suka novel remaja, atau komik gitu.” Shilla berceloteh sendiri, tak menyadari kalau Ify sudah berjalan keluar perpus...

Sampai di kelas.
Shilla masih penasaran dengan Ify, bukan karena apa-apa. Tapi lebih karena hampir seluruh murid di situ kaya sehingga terlalu angkuh untuk berkenalan, apalagi dengan orang biasa seperti dia. Dan dia melihat sosok Ify yang berbeda, dingin namun menyimpan kehangatan dan keramahan.

Namun dia harus segera duduk lagi di bangkunya, karena bel masuk sudah berbunyi. Bersebelahan dengan cowok keren dan cakep kayak Cakka memang asik, tapi kalau jutek kayak gini, berasa sendirian. Shilla pun nggak berminat mengajak Cakka mengobrol, jadi dia celingukan sementara guru yang akan mengajar belum masuk.

Tak berapa lama, seorang guru piket mengumumkan kalau guru yang bersangkutan sedang ada urusan penting, dan tidak ada tugas yang diberikan. Semua murid tersenyum-senyum senang. Baru beberapa menit setelah itu kelas menjadi ramai.

Ify yang duduk di depan Shilla segera melanjutkan buku yang baru dipinjamnya tadi. Karena tidak ada pilihan lain Shilla mengajak Cakka mengobrol.
“Cakka, lo kok jutek banget, sih?” tanpa sadar Shilla melontarkan pertanyaan tidak berguna.
Cakka menaikkan kedua alisnya, “Menurut lo?”
“Yah, seenggaknya ngobrol kek dikit. Jutek banget.”
“Oh, jadi harusnya gue bawel kayak lo, gitu?”
Shilla tersentak, “Enak aja!”
“Menurut gue kayak gitu. Salah?”
“Nggak sih. Terserah lo aja. Eh, di sini ada ekstra lukis, nggak?” tanya Shilla.
Cakka membetulkan kacamatanya, “kayaknya ada.”
“Oh.” Shilla mengangguk-angguk senang.
“Lo suka lukis?”
“Ya begitulah, gue masuk ke SMA ini juga karena lukis dan musik, kok.”
“Oh gitu.”
“Iya, kalau nggak gitu, gue nggak bakal bisa masuk sini. Mahal soalnya.”
Cakka hanya diam. Shilla mendengus kesal, tapi tidak berkata apa-apa lagi.


***


Sampai di rumah, Shilla langsung disambut Rio, kakak satu-satunya yang raut mukanya sangat menunjukkan kalau dia sedang marah. Shilla tahu betul kenapa.

Tadi pagi ia menyembunyikan HP keramat kakaknya -yang sudah bertahun-tahun masih awet- di kolong kasur Rio, sehingga Rio terlambat masuk ke sekolah karena jika tidak membawa HP itu Rio merasa jiwanya terbang separuh.

“Lo itu ya, udah tau HP itu hidup dan mati gue, masih aja lo umpetin. Liat,nih!” omel Rio, lalu menunjuk kupingnya yang agak merah, “gue kena semprot plus jeweran Bu Rina, buduk!” Rio berkacak pinggang. Shilla cuma tertawa geli. Ya ampun, sebegitu pentingnya HP keramat Rio?

Dengan acuh Shilla melepas sepatu dan kaus kakinya lalu melengang masuk.
“Eh, mau ke mana lo?” seru Rio geram.
“Mau bobo’ siang, Kak Rio yang cakep. Mau ikut?” Shilla balas berseru jahil, lalu melompat masuk ke dalam kamar bernuansa pinknya. Tadi dia sudah makan siang di kantin sekolah.

Sejenak dia merenung. Kenangan itu lagi. Sebuah masa indah yang berakhir tragis. Sahabat baiknya dari bayi sampai SMP yang empat bulan lalu meninggal karena kecelakaan karena ulah mereka berdua sendiri. Shilla tercengang. Ya, pantas saja dia merasa pernah melihat Cakka. Cowok jutek itu mirip sekali dengan Iel, nama sahabatnya itu Hanya saja Cakka jutek sedang Iel sangat cerewet.

Kembali Shilla menerawang kejadian yang menjadi kenangan terakhirnya dengan dia. Tepatnya saat awal tahun di kelas 9 SMP. Iel mengutarakan perasaan suka terhadap Shilla, yang sudah disimpannya begitu lama. Shilla hanya menjawab, “Gue nggak mau pacaran dulu. Tunggu aja gue di SMA.” Dan Iel hanya tersenyum, berjanji akan menunggunya.

Namun... Tiga bulan sebelum masa kelulusan, Iel harus pergi selama-lamanya. Shilla dan dia mengganggu seorang pedagang balon, dan membuat sebuah balonnya lepas, terbang ke arah jalan raya yang ramai. Iel, yang nekat mengejar balon terbang itu akhirnya tertabrak mobil sedan yang sedang melaju di tengan jalan.

Itu pemakaman kedua yang dihadiri Shilla, selain pemakaman Neneknya. Shilla menangis dan terus menangis sampai air matanya kering dan matanya membengkak. Mama dan Papa juga Kak Rio terus mendukung Shilla sampai akhirnya Shilla kembali tersenyum.

Sekarang hanya ada satu foto Iel yang terpajang di kamarnya –dulu dia memajang banyak foto Iel dan dirinya di kamar yang lalu disimpannya rapat-rapat di lemari. Dengan ukuran 15x10, foto Iel yang sedang tersenyum lebar merangkul Shilla terpampang jelas di atas meja kecilnya, bersisian dengan foto keluarga dan foto dirinya sendiri.

Lagi-lagi, Shilla menangis. Hanya saja tidak bersuara.
“Iel, gue kangen banget sama lo. Kapan lo pulang, Yel? Lo belum penuhi janji lo untuk jadi pacar gue. Gue kesepian, tau. Gue nggak punya temen lagi." Ucapnya lirih sekali, sambil menatap nanar foto Iel.
“Shil, Iel udah bahagia di sana.” Sebuah suara tiba-tiba menyahut. Kak Rio!
Shilla langsung menghapus air matanya, “dateng nggak salam dulu!” omelnya.
Rio tersenyum lembut, “Yuk, temenin gue nonton.” Dan Shilla bergegas mengusir Rio keluar, agar ia dapat berganti baju. Kakaknya ini memang sangat pengertian padanya...





***




Mau tahu kelanjutannya? Ikuti terus ya cerbungku ini di facebook. Karena hanya bagian satu yang aku post di blog, untuk promosi :D
 

Gemini Jurnal's Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review