“Apa??!!” Oik berteriak histeris begitu membaca sebuah sms dari Cakka. Buru-buru dia menelepon kakaknya, Rio.
“Kak? Cepet anterin Oik ke rumah sakit! Darurat!” ujar Oik begitu Rio akan mengucapkan halo dari seberang sana.
“Kenapa toh kamu, Ik? Sekarang kamu dimana?” jawab Rio berusaha tenang.
“Aku di toko depan sekolah!! Udah ceritanya nanti. Pokoknya kakak kesini dulu!! Cepetan!” seru Oik makin tak sabar.
“Iya, iya” sambungan diputus.
Dengan nafas tersengal-sengal Oik duduk di teras toko.
Sebetulnya tadi dia ingin membeli snack. Tapi setelah menerima sms dari temannya, Cakka, dia mengurungkan niatnya.
From : Cakka
Ik, Obiet kcelakaan wktu naik speda plg skul. Kmu ke RS ********** skrg!
Alvin jg ad disini sma aq.
Keke yang kebetulan lewat, heran melihat Oik yang kelihatan cemas.
“Oik!!” Keke berseru, membuat Oik kaget setengah mati. Keke meringis,
“Jangan ngelamun, Ik! Kesambet tau rasa,” ucap Keke, seraya membenahi bandonya.
“Ngg.. Obiet kecelakaan Ke..” cerita Oik ragu
“Hah??!! Kecelakaan?! Kok aku nggak tahu, sih Ik? Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?” sembur Keke histeris.
“Abisnya..” jawab Oik lirih
“Ya udah, sekarang Obiet dirawat dimana?” potong Keke cepat
Oik memperlihatkan sms Cakka. Jujur, dia belum pernah ke RS yang disebutkan Cakka. Makannya dia cepat-cepat meminta Rio untuk mengantarnya.
“Jadi kita mau langsung ke RS ini?”
Oik menggeleng, “Kak Rio mau nganter kita. Tunggu sebentar.”
Beberapa menit kemudian, Rio datang dengan motor kesayangannya. Kakak Oik ini memang sudah SMA, sebentar lagi kelas 12. Dengan berdesakan, kedua cewek itu membonceng Rio ke RS..
***
Begitu sampai di RS, Oik dan Keke langsung menanyakan kamar Obiet.
Setelah mbak resepsionis selesai memberitahu, keduanya menghambur ke ruangan yang dituju. Rio sampai terheran-heran, tidak pernah Oik sepanik ini..
Ruang Anggrek no. 04
Oik membuka pintu pelan. Alvin dan Cakka yang menemani Obiet menoleh,
“Oik? Keke? Kok..” Alvin berujar,
“Tadi aku udah kasih tahu.” Sergah Cakka
“Obiet gimana?” Keke mengalihkan pembicaraan
“Nggak parah, Cuma dia syok aja. Harus dirawat inap. Kasihan dia, mama papanya sedang pergi ke luar negeri.” Kata Alvin, lalu mendesah.
“Biet..” Oik memegang tangan Obiet yang lemas, terisak.
“Udah Ik, nanti dia bangun. Aku tahu kok, rasanya melihat sahabat kita sakit.” Ujar Cakka
Oik hanya menurut, kalau itu membuat Obiet nyaman.
Hp Oik berbunyi, ada telepon.
“Dek, kakak ada les, nih. Mau ditinggal atau ikut pulang?” terdengar suara Rio
“Ehmm, ikut aja deh kak. Nanti nggak tahu jalan lagi.” Jawab Oik
“Ya udah cepet ke ruang tunggu!” Klik!
Oik menoleh ke teman-temannya,
“Aku harus pulang. Ke, mau ikut pulang nggak?” tawarnya
Keke mengangguk, “Aku ikut kamu aja.”
“Kalau gitu, Vin, Ka, kami pulang dulu, ya. Jagain Obiet. Hehe..” pesan Oik cengengesan
“Siap non!” Cakka dan Alvin mengacungkan jempolnya
***
Malamnya, Oik tidak bisa fokus belajar. Padahal besok ada ulangan sejarah.
Akhirnya dia memutuskan menulis di diarynya,
Diary,
Oik sedih banget. Obiet masuk RS gara-gara kecelakaan. Apalagi, di rumahnya hanya ada nenek Tio yang menemani Obiet. Kamu juga pasti sedih, kan?
Tapi, kenapa, ya, Oik jadi panik banget waktu tahu Obiet kecelakaan. Kamu kan tahu, Oik anaknya cuek, selalu nggak mau peduli. Tapi kali ini beda..
Apa jangan-jangan...
Ah, nggak boleh! Oik sama Obiet cuma sahabat! Oik nggak boleh jatuh cinta sama dia! Apalagi, Obiet kan udah punya pacar, Sivia. Sivia juga temen deket aku. Masa’ aku mau nusuk dia dari belakang? Duh, Oik jadi pusing, deh, diary..
Oik menutup diarynya. Menghela nafas panjang.
‘Lebih baik aku tidur aja’ pikirnya.
***
“Hoi, bangun! Udah siang! Kamu mau berangkat nggak sih?” seru Rio dari ambang pintu.
Oik membuka matanya, “jam berapa, sih kak?”
“Enam,” jawab Rio singkat. Oik terbelalak. Cepat-cepat menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. “Dasar aneh!” gumam Rio
Di sekolah, Oik langsung menghempaskan tubuhnya ke bangku sebelah Shilla.
“Kayaknya keburu-buru banget sih?” tanya Shilla penasaran
“Ya iyalah, bangun kesiangan, sepatu ngilang eh nggak tahunya abis dicuci bunda. Abis itu, tadi gerbangnya hampir ditutup pak satpam yang killer itu. Sebel, tahu nggak!” cerocos Oik dengan dada naik turun. Shilla terkikik, “Salah sendiri bangun telat.” Sambung Dea dan Keke yang duduk dibelakang. ‘Iya, sih!’ seru Oik dalam hati.
Dia menoleh ke bangku sebelah Alvin. Kosong. Biasanya, si penghuni selalu datang pagi-pagi, lalu sibuk mengerjakan tugas yang belum selesai.
“Obiet nggak berangkat, ya? Tumben.” Ujar Shilla, tepat seperti pikiran Oik.
“Kamu belum tahu, Shil? Obiet kemaren kecelakaan.” Kata Keke
“Hah?!” respon Shilla sama persis dengan Keke kemarin.
“Harus jenguk nanti, nih. Kamu ikut, Dea?” tanya Shilla
Dea mengangguk semangat, “Obiet kan sering contekin aku PR.”
“Oh, jadi pamrih nih?” goda Oik disambut tawa lainnya.
“Pak Fandi datang!” seru Ray dari depan kelas, terburu-buru duduk di bangkunya.
Sekejap kelas jadi sepi. Dari luar, masuk guru tua nan galak.
“Hari ini ulangan, kan?”
“Ya, pak!” sahut semua murid serempak. Oik menepuk dahinya,
“Ya ampun!!”
“Belum belajar?” tanya Shilla lirih. Oik mengangguk pasrah. Shilla tertawa kecil.
Dan setelah bapak koreksi, hanya beberapa anak yang harus remedial. Oik, Deva dan Oliv.”
Suasana jadi riuh, yang tidak remedial senang, yang remedial cuma bisa pasrah.
“Kasihan kamu, Ik.” Ejek Debo dan Patton, pembuat onar di kelas mereka.
“Makasih ya, udah ngasihani aku!” jawab Oik sakartis. Dia malas membuat perkelahian dengan keduanya. Debo dan Patton tertawa penuh kemenangan.
“Biarin aja, Ik. Dasar kurang kerjaan.” Sahut Dea. Oik tersenyum, “Sip!”
***
Gimana pren? Ini cerita baruku. Komen ya?
Sankyu..
Minggu, 02 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar