Morning Light - Windhy Puspitadewi
Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya. Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri. Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?
---------
Novel Kak Windhy ini kembali mengingatkanku buat jadi diri sendiri, nggak seperti bunga matahari yang selalu 'mengekor' si raja cahaya.
Ya, novel Morning Light mengisahkan seputar empat sahabat--dua cewek dan dua cowok;
Sophie, cewek yang berusaha menjadi penulis hebat seperti ibunya walau sebenarnya dia lebih berbakat di bidang fotografi.
Devon, dipaksa menjadi pemain sepak bola handal dibawah bayang-bayang nama mahsyur ayahnya yang memang pemain sepak bola.
Agnes, yang kedua orang tuanya tidak peduli pada dia setelah kematian kakaknya yang jelas lebih bisa dibanggakan ketimbang dirinya.
Julian, berambisi untuk 'mengejar' prestasi kakaknya di bidang matematika atau apapun yang berhasil dicapai sang kakak.
Walau ceritanya agak gamblang dan endingnya mudah ditebak, tapi secara pribadi aku sangat menyukai cara Kak Windhy menyampaikan pesan cerita.
Yah, sejauh ini Kak Windhy selalu memakai tema persahabatan dan cinta, walau kadang-kadang memakai fantasi seperti di novel Incognito dan Touche. Dan ehm, karakter-karakter tokohnya mirip dengan novel-novel sebelumnya. Kayak Sophie yang menurutku mirip tokoh Dhinar di novel sHe, atau Devon yang agak mirip Caraka di novel Let Go.
Dan tokoh yang selalu muncul (kebetulan aku baca hampir semua novelnya kecuali yang emang bener-bener keluaran lama, Confeito (2005) dan Bun, Bun, Bun (2007)) yaitu; cewek dingin kayak es dan cowok jahil atau cowok cakep yang nantinya berakhir bahagia bareng si cewek dingin, hehe. Mbak Windhy, aku sampe' hafal lho :P
Aniway, aku tetep menjadikan Windhy Puspitadewi sebagai penulis nomor satu-ku, kok :D


0 komentar:
Posting Komentar