"AKU... SUKA... KAMU..." itu ucapannya, saat kami sedang dalam acara perpisahan SMP.
Aku terdiam cukup lama sampai nggak terasa lagu yang dibawakan band di atas panggung sudah berakhir.
"Aku... aku..." jawabku tergagap
"Wan, aku..."
"Awan! Afi! Foto-foto sama anak-anak dulu!" teriak Intan dari depan kelas
Kami berpandangan, salting. "Lanjut nanti ya," kata Awan, lalu bergegas menghampiri teman-teman di depan kelas.
Dan setelah itu, cerita penembakan tersebut tidak pernah ada kelanjutannya...
---
"Awan, kita sekelompok yaa," rajuk Nita
"Em... gimana ya?" jawab Awan sambil menggaruk kepala
"Udah masuk aja, ribet banget nih cewek," sergah Hanif
"Asik!" seru Nita lalu sibuk nempel-nempelin Awan.
Jelas, aku yang kelompoknya berjarak satu kelompok dengan Awan langsung membuang muka.
"Si Nita itu ya, pedekatenya kelihatan banget. Kalo aku jadi dia sih, udah pulang sambil tutup muka. Nggak punya malu," cerca Arvita yang satu kelompok denganku.
"Namanya juga usaha..." bela Meg
"Eh, jadi tugas kita gimana nih? Bagi-bagi dong biar gampang," potong Ita, berusaha mengalihkan pembicaraan lagi.
"Itu sih ntar aja, ngomongin si Nita dulu. Seru." jawab Ulka.
Ita memandangku, minta maaf karena usahanya menghentikan obrolan tidak mutu itu gagal. Aku hanya tersenyum pertanda nggak apa-apa.
Hariku selanjutnya bakalan berat nih.
----
Yap, sudah bisa ditebak, hari-hari selanjutnya dipenuhi oleh si-Nita-yang-agresif-pedekate-ke-Awan. Aku jengah sendiri melihat Nita tanpa malu-malu meminta Hanif bertukar bangku dengannya agar dia bisa sebelahan dengan Awan.
"Tuh, pura-pura tangannya keseleo lagi, idih!" ucap Ulka setengah berbisik karena kami duduk tepat di belakang mereka. Nita sedang merajuk, entah tangannya habis kelindas truk atau apa, lebay banget paniknya.
"Udah biarin aja," kataku pelan
"Tapi nih ya, si Awan kayaknya ngasih harapan deh ke Nita. Wong duduk sebangku aja dia nggak protes. Disuruh Nita nganter ke UKS aja mau." kata Ulka lagi, dengan mulut setengah monyong, kebiasaannya kalau lagi menggosipkan orang.
Deg. Iya, ya. Tanpa sadar aku meremas kertas yang ada di meja.
"Eeeh, itu kertas tugasku kenapa di gituin sih aduuh.." omel Ulka
Aku tersadar, "sori-sori,"
"Kamu... eh, ada rasa ya sama dia?" tanyanya, pelan.
"Uh..." aku bingung harus menjawab apa karena tebakan Ulka tepat sasaran
"Cerita aja deh Fi, siapa tau aku bisa bantu," desak Ulka yang kelihatan kepo banget
Akhirnya aku menceritakan semua kejadian saat perpisahan SMP tentu dengan berbisik. Untungnya guru geografi sedang berhalangan hadir sehingga kelas menjadi ramai.
"SERIUS?" seru Ulka, sambil menggebrakan meja. Suasana menjadi sepi karena semua memandang Ulka dengan tanda tanya di kepala.
"Jangan keras-keras bodoh," rutukku
"Eh tapi beneran? Kok kamu nggak cemburu lihat mereka kayak gitu?"
Nita tiba-tiba menoleh ke belakang disusul Awan, "Afi cemburu kenapa?" tanyanya, oh ternyata dia mendengar omongan Ulka barusan.
"Bukan urusanmu," jawab Ulka dengan nada jutek. Hubungan mereka berdua memang agak nggak baik seiring sifat asli mereka mulai terlihat nggak cocok satu sama lain.
"Jutek amat, aku kan tanya sama Afi." gerutu Nita
Ulka hanya diam. Sedangkan Awan memandangku penuh arti.
"Kamu cemburu sama siapa?" tanya Awan polos. Duerr!!
---
"Iya, habis itu kami naik bianglala lho..." pamer Nita, diiringi seruan takjub dari teman-teman, tapi aku cuma diam di belakang gerombolan itu.
Ita yang baru masuk ke kelas bingung dengan adanya ibu-ibu-arisan di meja Nita.
"Gosipin apa, nih?" tanya Ita nimbrung.
"Eh, anu, si Nita sama Awan kemarin baru ngedate ke Round Park yang baru buka kemaren lusa," jelas Meg
Agak terkejut, Ita lalu menjawab basa-basi, "seru tuh..."
"Emang seru, kami dari pagi sampai sore lho main di sana. Terus nih waktu aku naik wahana..." cerocos Nita dengan mata berbinar-binar.
Nggak tahan dengan obrolan itu, aku beranjak dari tempat duduk dan keluar kelas.
"Fi!!" seru Ita melihatku kabur. Ah masa bodoh!
--
Sudah dipastikan aku menangis. Iyalah, keterlaluan banget si Awan ini. Sudah ngaku-ngaku suka, eh malah jalan sama cewek lain. Nita juga, cowok yang aku taksir malah dideketin. Eh, dia nggak tahu ding aku naksir Awan.
Aku memilih sebuah lapangan kecil di dekat sekolah untuk menetralkan mata dan hidungku yang merah. Jam-jam sekolah begini lapangan pasti sepi makannya aku langsung melarikan diri ke sini. Di bawah sebuah pohon, nggak tahu pohon apa.
"Fi..." tiba-tiba ada yang memanggil dari belakang.
Astaganagabonarjadisepuluh. Awan!
Sabtu, 26 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar